Friday, December 7, 2012


Kelompok OPTIMIS seringkali berbicara kesempatan dan bagi PESIMISTIS seringkali berbicara mengenai ketidak mungkinan.

Dibawah ini ada sebuah kisah mengenai 2 sales sepatu terkenal yang dikirim ke pedalaman Afrika, berikut ceritanya:

Ada dua orang sales marketing sepatu yang dikirim oleh dua perusahaan berbeda yang bersaing untuk memasarkan produk mereka di sebuah pedalaman. Setibanya di sana, dua sales ini tercengang karena penduduk asli pedalaman tersebut sama sekali tidak menggunakan sepatu, mereka pergi ke mana-mana bertelanjang kaki.

Sales dari perusahaan pertama langsung PESIMISTIS dan mengontak kantor pusat. “Bos, pulangkan saja saya. Percuma jualan sepatu di sini, tidak akan laku, tidak satu orang pun mau memakai sepatu!” kata sales tersebut di ujung telepon.

Begitu juga sales marketing yang kedua, langsung menelepon kantor pusatnya, bedanya sales ini menelepon dengan OPTIMIS (bersemangat dan berbinar-binar). “Bos, kita bahkan bisa bikin pabrik sepatu di sini! Pasar kita banyak, belum satu orang pun memiliki sepatu!”

Sales yang kedua beruntung karena menjadi seorang optimistis. Sedangkan sales yang pertama tentu saja langsung didamprat habis-habisan oleh bosnya karena bosnya mengirimnya ke sana justru karena orang-orang pedalaman itu belum memakai sepatu. Sebenarnya apa yang membedakan dari kedua sales diatas? jawabannya hanya satu yaitu CARA PANDANG mereka yang berbeda (optimis dan pesimis).

Hal diatas juga berlaku untuk para manager, pelajar, atlet dan juga kita semua. Intinya adalah bagaimana seseorang merespons KESULITAN yang dihadapinya. Bila anda OPTIMIS maka anda akan lebih BERHASIL. Mulailah dengan rasa OPTIMIS (percaya diri) dalam mengatasi hidup ini, berpikirlah positif.

Sunday, September 2, 2012


 Perih kehidupan

Langit kelam
hanya dia yang menjadi teman
menemaniku,menaungi kehidupan
menapaki lembah suram duniawi

Tak ada cahaya
ku temukan dalam hidup ini
seakan tertutup oleh semua luka


Aku menangis.
dalam gelap malam,
meratapi nasib diri yang begitu menyedihkan
Entah sampai kapan
harus kulalui semua ini
Entah sampai kapan
derita ini kan bersarang di hidupku
Apa kan selamanya?
oh..tuhan
tak yakin diri ini
untuk sanggup melewati perih kehidupan